Bicara masalah klasik yang terjadi di Industri musik Indonesia, seperti pembajakan dan royalti musisi udah kaya benerin benang kusut, sulit banget.

Ngomongin royalti, sekarang dari mana aja sih musisi bisa dapet royalti kalo gak dari penjualan CD, atau secara digital, baik dari RBT (eh, masih ada gak ya?) terus sekarang digital music, dari iTunes, Spotify, dll, baik dari album berbayar maupun hari ini yang lagi hangat dibicarain adalah music streaming.

Namun di luar itu, ada beberapa sumber yang masih belum ketahuan, namun praktiknya merugikan musisi dan pelaku industri musik. Seperti musik yang didengerin di karaoke, di mall, di restoran, cafe dan bar. Ini yang kadang gak bisa ditelusurin, padahal kalo mengaca dari pasal 2 ayat (1) Undang-Undang no.10 tahun 2002 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta) disitu disebutkan,

”…, seorang pencipta lagu memiliki hak eksklusif untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya ataupun memberikan ijin kepada pihak lain untuk melakukan hal tersebut. Itu berarti bahwa orang lain atau pihak lain yang memiliki keinginan untuk menggunakan karya cipta (lagu) milik orang lain, maka ia harus terlebih dahulu meminta ijin dari si pencipta lagu atau orang yang memegang hak cipta atas lagu tersebut.”
Maraknya kasus pembajakan di Indonesia dan penggunaan musik yang ilegal ini lah yang menyebabkan sebuah analogi yang bikin kita senyum-senyum sendiri: Band A yang konsernya rame, yang lagunya udah dikenal dari penjaga counter di mall sampai tukang bersih restoran, tetep aja bandnya gak bisa kaya.

Nah, tahun ini nih ada pencerahan nih bagi musisi dan industri musik Indonesia. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada Jumat (294) resmi meluncurkan alat pendeteksi musik yang diberi nama Telinga Musik Indonesia (TELMI). “Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap hak royalti musisi Indonesia ini lah yang jadi alasan mengapa TELMI dibuat.” ungkap kepala Bekraf, Triawan Munaf saat jumpa pers yang digelar di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang Selatan.

Dikutip dari Rollingstone, Triawan pun khawatir dengan lagu-lagu milik musisi yang sering diputar di hotel, mall dan restoran secara bebas tanpa memikirkan sisi hak royaltinya. Ini mengapa ia berharap TELMI bisa jadi salah satu jawaban bagi musisi untuk leih mengoptimalkan karya-karyanya.

TELMI diciptakan oleh Izak Jenie. Ia mengembangkan teknologi ini bersama para praktisi IT di Indonesia selama 3 bulan. Satu boks ini menurut Izak diperkirakan menghabiskan biaya sekitar 35 dolar Amerika, termasuk hardware dan software. Gak cuma alat, TELMI juga mengembangkan website yang bisa diakses secara real time oleh penggunanya, dalam hal ini musisi atau semua yang berkecimpung di musik dimana bisa melihat lagu apa aja yang sedang dimainkan di satu lokasi. Dengan ini musisi dan komposer bisa ngeliat setiap bulan berapa uang yang akan didapatkan bulan itu dari lagu-lagu yang diperdengarkan.

Seperti apa sih bentuk TELMI ini? Seperti yang dikutip dari tekno.liputan6 , TELMI berbentuk kotak yang bisa mendeteksi lagu apa aja yang diputar. Nantinya alat ini bakal dipasang di hotel, restoran, cafe, dan lain tempat-tempat komersial lainnya. Lalu gimana caranya TELMI bisa mengenal lagu-lagu yang diputar? Nah aplikasinya kurang lebih sama kaya Shazam. Mau tahu cara kerja Shazam? Cek video di bawah ini.

TELMI bakalan ngebantu ngedata berapa lagu yang diputar dan seberapa sering lagu tersebut diputar. Dari situ musisi, penyanyi, komposer dan siapapun yang terlibat dalam lagu dan karya musik itu tahu gambaran jumlah royalti yang diterimanya.

Nah, kalo mau tahu cara kerjanya, liat di bawah ini,

[caption id=“” align=“aligncenter” width=“630”] kurang lebih begini cara kerjanye[/caption]

“Dengan cara ini kami berharap agar pemilik lagu bisa mendapatkan royalti yang pantas dan lebih layak,” papar Izak.

Senada dengan Izak, Triawan pun berencana akan melakukan promosi, sosialisasi dan pengembangan lebih lanjut tentang TELMI

Wah, semoga aja sih ini kejadian. Kalo iya, musisi, penyanyi dan pencipta lagu sih gak usah pusing lagi buat nyari tahu gimana cara mereka dapat royalti dari musik mereka yang diputar bebas di tempat-tempat umum.

Eh, by the way, namanya kok agak-agak aneh ya. Ada gak ada nama yang lain selain TELMI? Tapi ya terserah sih, kali aja kamu ada masukan nama lain, silahkan komen di bawah ya.